"Cerpen Cinta Romantis 2012" Cinta itu Membuatku Tegar
Langit tak lagi memberikan keindahanya, matahari yang sedari tadi pagi memancarkan panas teriknya, kini mulai meredup seiring dengan rintik air dari langit yang mulai membasahi bumi yang begitu terasa gersangnya. Ku hempaskan tubuhku di atas kasur besar di kamarku. Ku pandangi langit – langit kamarku dengan sesekali mencoba memejamkan mataku, namun tak bisa ku melupakan kejadian yang baru ku alami tadi. Ku sandarkan tubuhku di tembok kamarku sambil mengamati setiap sudut kamar yang berukuran 3 x 3 meter ini.
Angin yang berhembus kencang menyelinap masuk diantara lubang – lubang kecil di jendela kamarku. Malam yang dingin ini, semakin terasa dingin hingga kuraskan dingin yang masuk ke seluruh persendian tulangku. Ingin sekali ku memejamkan mata yang telah lelah melihat pertengkaran yang selalu terjadi di rumah ini.
Semua anak pasti ingin di besarkan dalam keluarga yang harmonis, keluarga yang rukun dan nyaman. Tapi tidak seperti itu kenyataan yang harus ku alami. Hidup bagaikan berada di bawah tekanan. Aku selalu merasa bersalah dan sedih seakan ada batu yang mengganjal di dalam hatiku setiapkali kulihat kedua orang tuaku bertengkar bahkan ayahku tak segan – segan memukuli ibuku. Yang membuatku makin merasa bersalah adalah pertengkaran itu terjadi di depan mata adik – adikku. Anak yang seharusnya tidak mendapatkan tontonan yang sedramatis dan kekerasan yang terjadi begitu nyata.
Kadang aku merasa kasihan dan takut akan dampak yang akan ditimbulkan dari peralakuan kasar ayahku. Tapi tak ada yang bisa aku perbuat selain membimbing dan selalu memberikan sedikt kata – kata yang kuharap bisa menenangkan perasaan anak yang masih berumur 9 tahun ini. Aku sangat kasihan melihatnya yang merasa ketakutan hingga menangis melihat drama kekerasan yang sering terjadi di dalam rumah yang dulunya menjadi tempat yang paling indah. Namun kini tak ada lagi keharmonisan yang terjalin di dalam rumah ini, bahkan aku merasa rumah ini bagai neraka buatku. Yang dengan mudah membakar seluruh penghuni di rumah ini.
Sebenarnya aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua orang tuaku. Tapi aku selalu merasa sesak jika melihat air mata ibuku yang selalu mengalir deras setelah mendapat perlakuan kasar dari ayahku. Kadang ku merasa ayahku seperti malaikat pencabut nyawa yang bisa mencabut nyawa ibuku kapanpun dia mau dengan cara apapun. Tapi walau bagaimanapun aku tak boleh membenci beliau.
Ayah memang memiliki sifat yang keras bahkan aku dapat menyebutnya sebagai seorang yang otoriter. Apapun yang dia mau, kita harus menurutinya walaupun hal tersebut tidak sesuai dengan kata hati kita. Namun dibalik sifatnya yang keras itu, beliau sangat menyayangi keluarganya. Hidup memang tidak pernah diketahui ujung dan akhirnya semua yang kita anggap akan baik – baik saja ternyata tidak seperti itu pula yang terjadi kemudian. Ayah yang bekerja sebagai pegawai negeri selalu menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan anak – anaknya behkan sering bercanda dan ketawa bersama. Ouuuu betapa indahnya saat – saat itu. Tapi itu semua hanyalah kenangan masa lalu yang aku sendiri tidak tahu apakah hal tersebut akan kembali terulang.
Sifat ayah yang sangat keras dan tidak memberikan kesempatan buat anak – anaknya mengungkapkan keinginanaya ternyata memberikan dampak negative buatku. Ketika aku masuk ke universitas akupun harus mengalah pada kemauan ayah yang menginginkanku menjadi seorang insinyur teknik. Tapi itu bukanlah keinginaku, tak sedikitpun hasratku untuk menjadi seorang insinyur. Aku ingin menjadi seorang duta besar. Tapi apa boleh buat, sebagai anak yang berbakti pada orang tua, aku turuti apa yang menjadi kemauan ayah.
Di kampus aku mendapatkan banyak pelajaran tentang kehidupan, pergaulan dan semua aspek kehidupan yang dulunya tidak aku temui. Berlahan ada niat ingin merubah diri dari dalam hatiku. Ada keinginan kuat untuk merubah jalan hidup. Aku mulai keluar dari diriku, mulailah aku masuk organisasi – organisai kemahasiswaan. Aku yang dulunya culun, cupu dan kutu buku, berlahan tapi pasti mulai mendapatkan dunia baru yang kurasa lebih memberikan inspirasi buatku. Inilah caraku untuk menentang dan berusaha ke luar dari belenggu yang selama ini menggerogoti tubuhku.
Aku terlalu terlena dengan organisasi – organisasi kemehasiswaan di kampus dan walhasil nilai indeks prestasiku hancur. Banyak mata kuliah yang harus mengulang. Dan pada akhirnya, dosenku memindahkanku ke fakultas lain. Perasaan sedih pasti ada tapi semua itu tertutupi dengan perasaan bahagiaku, dalam benakku berkata “ akhirnya aku bisa ke luar dari belenggu ayah”. Selama ini aku hanya mengikuti ayah tanpa memikirkan kata hatiku, akhirnya hasilnya justru mengecewakan. Namun aku bersyukur saat ini aku sudah bisa mewujudkan keinginanku, walaupun untuk tahap awal.
Ternyata tak semudah membalikan telapak tangan untuk menentang keinginan ayah. Mangatahui kondisiku seperti itu, beliau marah besar. Dan lagi aku harus berjuang meyakinkan ayah bahwa aku bisa. Di saat marah, tak ada satupun dari seluruh anggota keluargaku yang berani bersuara. Tak juga ibu. Ibu hanya dapat melihatku dengan wajah sedihnya, berusaha menenangkan diriku.
Besar di antara keluarga yang tak lagi harmonis dalam jangka waktu yang lama, membuatku menjadi seorang yang sensitive jika teman – temanku bercerita tentang keluarga mereka. Kadang aku merasa iri melihat keharmonisan keluarga teman – temanku. Malah kadang aku berfikir bahwa Tuhan itu tidak adil kepadaku. Mengapa aku yang harus mengalami semua ini. Dalam doaku selalu berharap ada mukjizat yang bisa mengembalikan keharmonisan keluargaku. Aku rindu ayah yang dulu, yang selalu ada disaat kita butuhkan, yang selalu mengajarkan dan memberikan petuah tentang kehidupan, yang mendorong kita untuk menjadi anak – anak yang kuat menghadapi cobaan hidup. Kemana semua itu? Hilang tak bersisa dan berbekas. Semua lenyap ditelan waktu. Seandainya aku bisa memutar kembali cerita yang telah berlalu.
Kadang aku merasa bahwa aku adalah anak sial, yang tidak bisa berbuat apa – apa ketika ayah memukul ibu, yang hanya tertunduk sedih ketika ayah menentang keinginanku, yang hanya merangkul adik – adikku ketika ketakutan melihat prilaku ayah kepada ibu, yang tak bisa berbuat apa – apa untuk membuat adik – adik dan ibuku tersenyum. Miris memang namun itulah yang aku rasakan.
Dalam keputusasaanku aku selalu melihat ibuku. Buatku dialah orang yang tak ada tandinganya di dunia ini. Dia mampu bertahan di tengah tekanan berat kehidupannya. Walau terkadang terlihat raut kesedihan di wajahnya, dia selalu berusaha menyembunyikannya. Dia selalu memberikan senyuman termanis dan tulus dari hatinya. Sebenarnya ibu bisa saja meninggalkan ayah. Walaupun belum resmi, ibu sudah ditalak cerai oleh ayah. Siapa yang mau dipukuli dan dimarahi oleh orang yang sudah tidak memiliki ikatan lagi. Selain itu, ibu juga memilik pekerjaan yang tetap yang bisa menghidupinya. Tapi tak sedikitpun niatnya untuk meninggalkan rumah ini, hanya untuk satu alasan yakni anak – anaknya. Begitu besar rasa cintanya pada kami, mengalahkan segalanya.
Ibu,,,,,
Tak ada seorangpun di dunia in yang bisa menggantikanmu
Walau bidadari dari surga yang di kirimkan Tuhan untukku,
Engkau tetap dan akan selalu menjadi yang terbaik
Walaupun air wajahmu memancarkan kesedihan,
Kau selalu merubahnya menjadi senyuman
Ibu,,,,,,,,
Walaupun ombak yang menerjangmu bertubi – tubi,
Walaupun angin yang menerpamu seakan ingin menerbangkanmu,
Walaupun hujan yang turun seakan ingin menenggelamkanmu,
Tetaplah berdiri tegar Ibu,,,,,,
Ibu,,,,,
Cintamu kekal sepanjang masa
Kasihmu abadi sepanjang jalan
Senyummu tulus, memberi ketentraman di hati
Ibu,,,,,
Sejuta cinta dan kasih sayang ku persembahkan padamu.
Tiba – tiba aku tersentak dalam khayalanku ketika adikkua mengetuk pintu kamarku.
“ kak! Kakak!”
“ya, kenapa?”
“dipanggil ibu” tiba – tiba ia membuka pintu kamar dan dengan seketika aku berpaling dan menghapus air mataku
“ disuruh makan tuh,”
Akupun berjalan beriringan dengan adikku menuju tempat makan.
Di meja makan ku termangu, kulihat semua adikku dan ibuku. Tapi tidak ada sosok ayah di sini. Hampir saja air mataku mengalir tapi aku langsung menyembunyikannya. Aku tak ingin merka melihatku bersedih. Sebagai anak pertama dan laki – laki pula, aku harus bisa jadi panutan buat adik – adikku.
Ada hal yang selalu membuatku tegar dalam menjalani kehidupanku, walaupun linangan air mata selalu mengalir deras disaat aku berdoa kepada yang memberi kehidupan. Hal itu adalah keyakinan bahwa semua yang ada di dunia ini, sudah di atur dan semua manusia memiliki masalahnya sendiri – sendiri. Dan pasti akan ada jalan keluarnya, entah kapan hari ini, esok, ataupun nanti di saat detik – detik terakhir berada di dunia ini. Dan itu pula yang akan terjadi padaku. Aku tak pernah tahu kapan semua ini akan berakhir.
Do’aku
Tuhan jika kau ambil aku saat ini, aku siap
Tuhan jika kau berikan aku cobaan seperti ini,
Bantu aku keluar dari belenggu ini
Tuhan jika memang aku tak lagi mampu berdiri di atas kakiku,
Papahlah aku ke manapun kau mau
Tuhan jikalau boleh memilih,
Aku tak ingin terlahir dalam keadaan seperti ini
Tuhan jikalau ada yang ingin kau berikan padaku,
Bolehkah aku yang memintanya?
Tak banyak inginku Tuhan
Yang aku mau hanya kebahagian bagi keluargaku Tuhan
Apapun dan bagaimanapun Tuhan,
Bantu aku mewujudkannya.
Kalau kamu suka dengan "CERPEN CINTA ROMANTIS 2012" di atas, jangan sungkan-sungkan untuk menekan tombol LIKE yah.... karena nanti masih banyak cerpen cinta romantis terbaru 2012 yang lain di blog berita uptodate ini.
